Home » , » Ini yang Terjadi Kalau Ngotot Pakai APBN 2014

Ini yang Terjadi Kalau Ngotot Pakai APBN 2014

Written By Unknown on Rabu, 12 Maret 2014 | 13.10


Jakarta -Hingga hari ini, pemerintah masih memakai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2014 meski kondisi riil perekonomian sudah tidak sejalan dengan asumsi-asumsi makro yang ada di dalamnya. Kira-kira apa konsekuensinya jika APBN 2014 masih dijalankan?

http://images.detik.com/content/2014/03/12/4/154733_rapatdpr.jpg
Rapat paripurna DPR yang membahas soal APBN 2014. (Foto: kemenkeu.go.id)
Dalam APBN 2014, pemerintah menetapkan asumsi pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen, inflasi 5,5 persen, nilai tukar Rp 10.500 per dolar Amerika Serikat, suku bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) 3 bulan 5,5 persen, harga minyak mentah Indonesia (ICP) US$ 105 per barel, lifting minyak 870.000 barel per hari, dan lifting gas 1,24 juta barel per hari setara minyak.

Namun dalam perjalanannya, sejumlah asumsi ternyata tidak sesuai harapan. Nilai tukar, misalnya, sepanjang 2 Januari sampai 17 Februari terkuat adalah Rp 11.785 per dolar AS dan terlemah Rp 12.240 per dolar AS. Beberapa hari terakhir rupiah memang mengalami tren penguatan, tetapi masih berada di kisaran Rp 11.500 per dolar AS.

Selain itu, lifting minyak juga masih cukup jauh di bawah asumsi APBN 2014. Per Januari, rata-rata lifting minyak tercatat sebanyak 789.000 barel per hari. “Asumsi pertumbuhan ekonomi yang 6 persen juga terlalu optimistis. Kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun ini sekitar 5,6-5,8 persen,” kata Juniman, Kepala Ekonom BII, di Jakarta, kemarin. 

Oleh karena itu, Juniman menilai APBN 2014 sudah tidak relevan lagi. “Perlu diingat bahwa ruang fiskal kita terbatas sehingga revisi menjadi cukup mendesak,” tegasnya.

Ketimpangan di asumsi makro akan mempengaruhi postur anggaran negara. Dokumen Nota Keuangan 2014 menyebutkan bahwa untuk pertumbuhan ekonomi, penurunan 1 persen akan mengakibatkan defisit anggaran kemungkinan bertambah Rp 2,95-4,79 triliun.

“Kalau pertumbuhan turun berarti aktivitas ekonomi melambat. Perlambatan aktivitas ekonomi akan berdampak pada penerimaan pajak seperti PPh (Pajak Penghasilan) dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai) yang under perform,” tutur Juniman 


Kemudian jika asumsi nilai tukar dipertahankan, pemerintah harus nombok besar. Ini karena pemerintah harus membayar kewajiban seperti pembayaran bunga obligasi dan pinjaman luar negeri dengan dana yang lebih dari yang dicadangkan.

Asumsi kurs ditambah dengan lifting yang tidak sesuai target, kata Juniman lagi, akan membuat anggaran subsidi semakin membengkak. Penyebabnya, pemerintah harus mengimpor minyak lebih banyak karena produksi dalam negeri tidak mencukupi. Biaya impor juga bertambah karena pelemahan rupiah.

Dalam Nota Keuangan 2014, disebutkan bahwa setiap depresiasi kurs Rp 100 dari asumsi berpotensi menambah defisit anggaran sampai Rp 1,23 triliun. Sedangkan penurunan lifting per 10.000 barel per hari bisa menambah defisit sampai Rp 1,94 triliun.

Saat ini, APBN 2014 memiliki defisit sebesar Rp 175,35 triliun atau 1,69 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Meski nanti sudah diubah, Juniman memperkirakan defisit tetap akan naik menjadi sekitar 2 persen PDB.

umber : http://finance.detik.com/read/2014/03/12/154336/2523606/4/ini-yang-terjadi-kalau-ngotot-pakai-apbn-2014
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template | Kho Khocez
Copyright © 2014. Mukhtar Adam - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Kho Khocez
Proudly powered by Blogger